Amurang, SN – Gonjang ganjing soal harga cengkeh dewasa ini, nampaknya masih belum berakhir. Bahkan tragisnya lagi harga salah satu komoditi andalan Sulut ini, dinilai cenderung melorot.
“Maka dari itu sudah selayaknya pemerintah harus melakukan terobosan baru,” kata Jopi Mongkaren, Legislator Gedung Soedirman (julukan dekab Minsel) saat dihubungi wartawan kemarin.
Mongkaren menilai, salah satu penyebab pokok permasalahan sehingga harga cengkeh merosot, dipicu oleh dugaan adanya permainan harga yang dilakukan pembeli/pemodal. “Salah satu cara untuk menghindari terjadinya permainan harga cengkeh tersebut, yakni dengan memberikan modal lebih kepada petani untuk biaya pemetikan saat Panen,” ujar Mogkaren.
Lanjut dia, pemerintah diharapkan bisa memberikan jaminan, atau bisa melakukan kerjasama dengan pihak pemberi modal seperti bank pemerintah. “Dengan adanya modal untuk biaya pemetikan, petani bisa mengatur sendiri kapan cengkeh tersebut akan dijual. Atau dengan kata lain, petani tidak terburu-buru menjual cengkeh dengan harga di bawah hanya untuk menutupi hutang,” tandas Mongkaren.
Namun ketika disentil soal ada upaya pemerintah lewat sistem resi gudang, Mongkaren menilai hal tersebut dirasa kurang efektif. “Pengalaman kami di era 80-an, dengan diberikannya modal kepada petani untuk biaya pemetikan, harga cengkeh bisa stabil dan sulit dimainkan oleh pihak pembeli,” kunci Monkaren.(hen)




























