sulutnews.net

Monday
Sep 06th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

shs_tanpa_korupsi


Home Hiburan & Gaya Hidup News Kupas Tuntas Citra Tou Manado ‘ala’ Jeffrey Rawis

Kupas Tuntas Citra Tou Manado ‘ala’ Jeffrey Rawis

E-mail Print PDF

Sukarno - Sam RatulangiJakarta , SN - Buku terbaru karya jurnalis nasional, Jeffrey Rawis, berjudul “Orang Manado: Mitos, Legenda, Gaya , Citra & Canda”, segera di-‘launching’ di Jakarta dan malah tengah mendapat undangan dari beberapa kota di Indonesia untuk prosesi selebrasinya.

“Bisa dikatakan, inilah ‘kupas tuntas’ citra Orang Manado secara apa adanya, dan disajikan dalam laras bahasa jurnalistik, sehingga dijamin tak bikin kening Anda berlipat-lipat saat menikmatinya,” kata wartawan yang selang dua tahun (hingga 2007) ditugasi LKBN ANTARA di ‘segitiga emas’ Selat Malaka, Batam-Singapura-Johor ( Malaysia ).

Buku yang merupakan hasil penelusuran empirik serta studi atas beragam referensi dari dalam maupun luar negeri itu, menurut Jeffrey Rawis, disusunnya dalam waktu cukup lama, yakni sejak pertengahan dekade 1990-an.

“Ini agak melelahkan karena cukup panjang proses penulisannya. Karena saya mesti menggali berbagai informasi terkini tentang Orang Manado atau Manadonessee ini, yang kebanyakan hanya berwujud bahasa tuturan.. Tapi saya bersyukur, Tuhan bisa memberi hikmat sehingga highglight tentang para kawanua itu sedikit waktu lagi bisa di-launching,” ujarnya.

Problem antara bahasa tuturan versus bahasa tulisan ini, menurutnya, memang cukup merepotkan. “Dan inilah yang menjadi masalah spesifik dalam setiap proses penulisan ihwal apa pun tentang Minahasa khususnya, Manado secara umum,” jelasnya lagi.

Pasalnya, demikian mantan Ketua DPD I KNPI Sulut periode 1999-2002, ini dominasi bahasa tuturan benar-benar signifikan. “Banyak kita generasi muda di Minahasa khususnya, lebih suka bercerita di meja makan tentang historik keluarga atau komunitasnya, ketimbang menuliskannya via berbagai media,” ungkapnya.

Karenanya, ia merasa sebagai suatu kebanggaan tersendiri telah berhasil menyelesaikan proses studi tentang Manadonessee ini, malahan dapat dikemas menjadi sebuah sajian yang dianggapnya cukup bisa dijadikan salah satu buku ‘babon’ tentang Orang Manado.
Citra Seutuhnya

Dari informasi awal, buku yang diterbitkan atas kerjasama Yayasan Malesung dan Lembaga Riset JR Pro ini, terdiri atas lima bagian.

Setiap bagian, menurut Jeffrey Rawis, merupakan episode otonom, tetapi memiliki rangkaian tak terpisahkan dengan bagian-bagian lainnya, agar pembaca bisa menyimak citra Orang Manado secara utuh, tak separuh-separuh.

“Bagian Pertama, saya berusaha memposisikan Orang Manado sebagai hasil akulturasi dari kultur utamanya, yakni Orang Minahasa (Tou MinaEsa), dengan beberapa kerabatnya atau mitra kultural strategis di Kota Manado, seperti Orang Cina, Orang Belanda (termasuk komunitas Borgo), Orang Sanger, Orang Mongondow, Orang Gorontalo dan Orang Ternate,” jelas Jeffrey Rawis.

Di sini, lanjutnya, akan semakin jelas, bahwa Orang Manado itu memang terbentuk utamanya oleh ‘semburan’ kultur Orang Minahasa, tetapi, dia itu tidaklah Tou MinaEsa.

“Yang jelas, Manadonessee itu merupakan komunitas kawanua yang sudah mencakup. Karenanya, diturunkan pula di Bagian Pertama itu tentang sejumlah kisah, mitos, legenda termasuk cikal bakal para kawanua itu (Orang Minahasa, Orang Sanger, Orang Mongondow, Orang Gorontalo dll),” tambahnya.
Penulis buku “Menjahit Laut Yang Robek: Paradigma Archipelago State Indonesia ”, ini, lanjut menjelaskan, untuk Bagian Kedua, lebih kepada life style.
“Nah, di sinilah sebetulnya awal bagi setiap pihak eksternal memberi image kepada Orang Manado. Bagaimana cara makiannya, cara doanya, laki-lakinya punya gaya parlente, wanitanya yang pang ba stel, makananya yang semarak, busananya yang aduhai, rumahnya yang terkadang berantakan, dan seterusnya sampai pada kenapa dia selalu tampil dengan prinsip sei re’en,” paparnya.

Di Bagian Ketiga, demikian Jeffrey Rawis, tertutur citra diri para kawanua dalam berbagai lapangan kehidupan (pendeta, guru, tentara, politikus, ilmuwan, wartawan, birokrat, seniman, profesional dan seterusnya).

“Baik itu secara hightlight per individu maupun kelompok, maupun performa khusus sosok-sosok dan tokoh sekaliber Alex Kawilarang (pendiri Kopassus), Frits Eman (perintis industri otomotif Indonesia ), Marie Thomas (dokter wanita Indonesia pertama), tentu juga Sam Ratulangi (yang sesungguhnya ditawari sebagai kepala negara Indonesia pertama) dan seterusnya,” tuturnya.

Pokoknya, semua dibicarakan secara spesifik, malah terkadang ada yang berbau ‘x-file’, karena belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Opini Eksternal
Sementara itu, untuk Bagian Keempat, berisi opini dan komentar pihak eksternal (Orang Amerika, Orang Eropa, Orang Jepang, Orang Israel, Orang Arab, Orang Cina, Orang Jawa, Orang Batak, Orang Papua dan sebagainya) terhadap Orang Manado.

“Mereka yang dipilih memberi opini dan komentar itu terdiri dari beragam latar serta profesi. Pokoknya asyik-asyik juga pendapat mereka. Termasuk dari Bung Karno, Pak Harto, Mister Habibie, hingga beberapa calon presiden (Capres) sekarang,” ujarnya.

Selanjutnya yang terakhir, Bagian Kelima, merupakan cuplikan ‘mati ketawa cara Manado ’. “Di sini banyak cerita grap, baik para Manado di perantauan (di dalam dan luar negeri), maupun di tanah leluhur Sulawesi Utara,” jelasnya.

Jeffrey Rawis berharap, penerbitan buku ini akan menambah semarak khasana budaya nasional.“Minimal akan ada buku babon bagi para pihak (internal maupun eksternal) tentang Manado . Karena, kita kan terbiasa hanya bacirita, jarang batulis. Makanya, banyak sejarah kita hanya dikenal dari bahasa tuturan (sulit ditelusuri) ketimbang bahasa tulisan. Jangan tentang Jawa, buku-buku mengenai Papua dan Dayak saja lebih banyak dari buku tentang Orang Manado,” katanya.

Itulah yang antara lain memotivasi penulisan buku ini, sehingga ia optimistis, karya terbarunya itu bisa memberi makna tersendiri bagi eksistensi Orang Manado, kini serta di masa nanti.“Apalagi, beberapa figur yang kredibel telah siap dan memberi konfirmasi positif untuk hadir memberi pendapatnya dalam rangka launching, di antaranya budayawan Remy Silado (Yapi Tambayong), pakar informasi Dr Akhmad Mukhlis (Direktur LKBN ANTARA), dan politisi yang juga Ketua Komisi I DPR RI, Drs Theo L Sambuaga, MA, serta beberapa yang lain,” ungkap Jeffrey Rawis. (ms)

 

Baca Juga:

pln_polri_01

minsel_polri_01

Like it? Share it!