sulutnews.net

Saturday
Jul 31st
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

shs_tanpa_korupsi


Home Hiburan & Gaya Hidup News Tanda Mata Dari Kapal Missori

Tanda Mata Dari Kapal Missori

E-mail Print PDF

lukisan-gadis-bali3

Oleh : Maria Wullur

( BAGIAN DUA - HABIS )
Cerita sebelumnya:
Kisah seorang gadis berusia 16 tahun yang terlepas dari kejahatan perang di jaman Nippon Belanda (1942-1945).Dia terlibat asmara  dengan seorang Laksamana Muda Jepang di atas Kapal Perang Missori, dan melahirkan seorang anak perempuan. Sayang, anak tersebut diperebutkan sepasang suami istri yang bekerja di Civil Law Kantor Walinegeri di waktu itu.

Berikutnya Pak Jaksa yang bertampang jahat itu segera menunjukkan selembar surat untuk Roselin. Surat dikirim seorang koleganya Mayjen Nakamura.
"Dia menulis surat ini karena tak ada harapan lagi bagi Jepang untuk menang dalam Perang Dunia Kedua. Dan kemugkinan suamimu Tosojuki Tirohito juga telah mati di Hirosima. Aku diminta segera melunasi hutang-hutanmu dan mengadopsi  anak Hirohito," demikian kata Pak Jaksa sambil memulai membaca surat berbahasa Jepang itu hingga baris terakhir.
Roselina jatuh terduduk di kursi selesai surat itu di baca. Wajah perempuan itu mendadak pucat, Mulutnya tak dapat berkata apa-apa, hanya sesekali ia terisak.Mimpinya untuk dapat hidup bahagia seperti perempuan pada umumnya di wilayah itu tiba-tiba menguap ke langit.    
"Kuharap bukti ini dapat merubah keputusanmu," lanjut pria itu dengan wajah lega untuk memecahkan keheningan. "Biarlah  statusmu sebagai selir Hirohito menjadi mitos, Dia pemujamu bukan ayah dari anak itu,"
Dari arah pintu masuk seorang petugas pengawal dari Kantor Wali Negeri tampak lari memasuki rumah sambil mendorong kereta roda. Sesegera kereta itu diberikannya kepada Nyonya Meyda Cendrawati untuk digunakan menidurkan Brigita. Tak berapa lama ia keluar dan berdiri kembali diteras sambil memegang sebuah senjata berpeluru. Para petugas pengawal dari Kantor Wali Negeri ini mayoritas berusia 20 an tahun. Mereka biasanya menjadi pengawal para pejabat pemerintahan saat mengungjungi rumah - rumah para wanita yang mengalami perlakuan kurang baik dimasa darurat perang, bahkan membunuh wanita rasanya tidak begitu asing.
Kemudian Roselina diberi minum oleh pembantunya agar lebih tenang. Proses selanjunya Brigita akhirnya dibawa keluar oleh Nyonya Meyda untuk di bawa pulang ke rumahnya. Pak Jaksa datang mendekati Roselina dan menyerahkan sejumlah uang padanya.                                                                                                          Singkat cerita, sejak itu Brigita diasuh oleh pasangan suami isteri ini. Roselina hidup sengsara namun kembali bekerja  mengawasi perkebunan miliknya dan menjual hasil perkebunan itu ke kota. Setiap hari ia juga berdoa agar Brigita dapat kembali diasuhnya, dan sesekali ia berlatih menari di waktu senggang.
Sementara itu Kota Manado, dalam kurun waktu lima bulan setelah kemerdekaan keadaan berubah  seratus delapan puluh persen. Terutama bidang perhubungan, jalan udara, laut dan darat mulai dibuka selebar-lebarnya bagi semua pendatang. Pembangunan di sektor perdagangan dan pemerintahan segera ditata dengan baik. Pemerintah daerah mulai berusaha melakukan hubungan erat dengan pusat, meski sebatas di wilayah Indonesia Timur saja.
Ada tiga syarat yang diajukan pemerintah Wali Negeri kepada pemerintah pusat untuk mencapai perubahan. Yang pertama pemerintah pusat harus memberikan bantuan berupa perlindungan keamanan bantuan obat - obatan, makanan, dan ketiga memberika perlakuan yang adil bagi para perempuan korban perang untuk hidup dengan sejahtera.
Berita ini sampai juga kepada Roselina saat akan mengambil air untuk mandi di perkebunan. Ia disapa seorang pejabat dari Wali Negeri. Dengan ramah orang ini menyarankan agar sebaiknya Roselina datang ke Istana Pandopo Walikota untuk menyaksikan Festival menari yang dilaksanaknya pemerintah kota untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kota Manado. Setelah mendapat penjelasan yang lebih detail, Roseline setuju untuk hadir menjadi peserta festival.
Suasana cukup mencekam karena para penari rata - rata adalah penari terbaik yang datang dari seluruh pelosok, kabupaten, dan sudah disolek menjadi cantik rupawan.
Walikota menerima kedatangan gadis- gadis penari itu dengan sukacita dan langsung menyalami mereka. Isteri walikota menjamu mereka minum dan mencicipi kue tradisional. Disinilah tampak hubungan keakraban pemerintah dan masyarakat mulai dibangun. Betapa repotnya mereka menghadapi peperangan tapi jika berurusan dengan perdamaian mereka selalu bersuka cita. Kemudian tiba giliran Roselina untuk menari di depan tamu - tamu dan juri. Berhubung dia cukup pintar menari, maka tariannya disambut tepuk tangan riuh. Tubuhnya lebih gemulai, mengeliat lembut, melenggok- lenggok sambil tangannya menari serta dua jari telunjuk dan tengah menjepit sapu tangan. Diakhir tarian itu, ia sempat melempar sapu tangan tersebut kepangkuan walikota dan kedua tangannya terangkat keudara untuk digerakkan dua tiga kali sebagai selesainya ia menari.
Lantas apa yang terjadi? Selasa siang tanggal 20 Roseline diminta hadir dalam sebuah acara jamuan siang pemerintah kota untuk menghibur beberapa tentara sekutu yang hendak pulang ke negaranya setelah menjadi mediator upaya kedaulatan Indonesia atas bangsa Belanda.
Perempuan itu terkejut, namun peruntungannya sedang mujur terutama kesempatanya untuk memperoleh berbagai hadiah dari walikota. Di hari yang berputar lembut ini, ia menghabiskan waktu untuk menari dan menikmati hadiah demi hadiah dari para tentara sekutu. Dia juga didekati walikota menjelang sore hari
"Kau sungguh pandai menari Roseline," puji laki - laki yang sudah 10 tahun menjabat walikota karena bergelar bangsawan dari turunan empung wananata ini, sambil menyebut namanya.
"Benar tuan walikota, Tuhan memberkatimu," sahut Roseline hormat, sebab kepalanya terus menunduk
"Senang bertemu denganmu Roseline. Tarian apa itu ?
"Terima kasih tuan. Tarian saya bermakna untuk mematahkan mitos para walian kita. Dalam sejarah para pemimpin kita sejak dahulu berkembang kepercayaan bahwa mereka hanya bisa memuja, namun ada yang lebih spesial daripada memuja .... ! "
"Apa?" tanya sang Walikota.
"Ibu saya mengajarkan bahwa yang terutama dari pemujaan adalah spritualisasi. Setiap penari harus dapat menampilkan gerakan yang memberi pesan bahwa pemujaan intinya harus bisa mencintai sesama, rendah hati, jujur, bijaksana. "
"Jadian ibumu juga pandai menari? "
"Ibu adalah guru bagi saya, tuan. Kami belajar tari secara turun temurun. Orang -orang Jepang sangat menyukai tarian ini."
"Benarkah ? Berapa banyak petinggi jepang yang sudah kau hibur dengan tarianmu ? "
"Tidak banyak, tuan. Saya terlanjur jatuh cinta kepada seorang laksamana muda dan darinya saya melahirkan seorang anak perempuan. "
Walikota itu kaget sekali.  "Jadi berapa usia anakmu ? Satu tahun?
Roseline tanpa takut lagi langsung bersitatap dengan laki - laki itu . "Saya berharap Tuan Walikota menolong bayi itu untukkembali kepelukan saya. Ia berusia 5 bulan dan sekarang  berada dirumah Tuan Jaksa. Dia adalah seorang pejabat Kepala Civil Law di Dati II. Saya tidak memiliki tenaga untuk mengambilnya kembali  karena mereka terlalu kuat, " Roseline pun tersedu - sedu sambil terus bercerita berbagai kesulitannya terpisah dengan bayinya itu.
Walikota termenung sesaat setelah mendapat waktu berpikir dia akhirnya berkata. "Sekarang aku tentu tak bisa menolongmu, tunggulah sampai esok pagi. Datanglah ke pendopo rumahku ini pada pukul 07. 00 wita. Berdoalah sebab aku akan mempertemukan mereka denganmu."
Kesesokan harinya Walikota itu sudah berdiri di halaman pendopo rumahnya. Terdengar suara desingan peluru dan sesekali sabitan anak panah mewarnai kehadiran pria yang baik hati ini. Maklum, di hari ini tenyata merupakan hari rentetan perayaan Hari Ulang Tahun, karenanya ada aktraksi baku tembak sejumlah tentara pengawal yang melakukan demonstrasi. Terlihat juga beberapa pasukan orang berkuda dan sejumlah laki - laki dengan sekawanan anjing.
Tak lama kemudian demonstrasi itu berhenti. Tampak disana Roseline bersama Pak Jaksa dan Nyonya Meyda sedang menggendong Brigita.
Tiba - tiba terdengar suara nyaring membelah suasana yang hening. "Bawa padaku bayi Jepang itu biar
kugendong.! " kata walikota.
Dengan takut Nyonya Meyda membawa Brigita ke dalam pelukan sang Walikota. Dia mulai mengerti  bahwa kehadiranya dipondopo istana Walikota adalah untuk mengumumkan ibu Brigita yang sebenarnya.
"Tentu saja bayi ini anak saya, Tuan Walikota, "katanya.
"Tidak. Itu anak saya ! " pekik Roseline sambil tersedu - sedu
"Jika kalian terus merebutkan anak ini, maka aku akan melemparnya ke tengah-tengah gerombolan anjing lapar itu."
"Jangan lakukan perbuatan terkutuk itu, Tuan! " pekik lagi Roselin. Dengan kasar ia mendorong tubuh Nyonya Meyda hingga wanita ini menjadi marah.
"Hei, Dia bukan anakmu biarkan saja dimakan anjing." tungkasnya lebih kasar.
Roselin berlutut di hadapan walikota sambil berlinang airmata. Ia memohon belaskasihan dan dengan sedih menatap bayinya.
Tanpa menghiraukan tangis Roselin, Walikota itu pergi berjalan ketengah - tengah lapangan pendopo dan siap meletakkan Brigita di sana.
"Jangan lakukan hal itu, Tuan ! " teriak Pak Jaksa tak kalah nyaring. "Kami mohon ampun. "
"Biarkan dimakan anjing saja," pekik marah bu meyda tak juga redah.
Walikota segera tersenyum sambil ia kembali berjalan mendekati ketiga orang ini. Akhirnya diapun  meminta Roselin dan Pak Jaksa untuk  menceritakan peristiwa mengenai kelahiran Brigta. Setelah mendengarnya kemudian didekati Roseline, lalu diserahkannya bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"Ia memang anakmu. Ambilah dan besarkanlah dia dengan keringat dan takutlah pada Tuhan," katanya memberikan keputusan.
Selanjutnya Pak Jaksa dan istrinya diampuni namun dipecat dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Civil Law. Sedangkan  Roselin amat bersuka cita,  ia akhirnya kembali dapat menggendong Brigita dan mengasuh anak itu hingga ia berusia 20 tahun dan menikah. Brigita memberinya 9 orang anak dan 22 orang cucu serta 28 cicit. Satu diantara cucu  Roselina terjum menjadi politisi dimasa Orde Baru. Sementara lainnya ada yang dosen, guru,  instruktur tari, dan pengusaha tinggal di Jepang.  (Habis)

 

mdo_ucapan_selamat_plt-walikota

mdo_ucapan_selamat_plh_sekprov

Like it? Share it!

mdo_paskah


minahasa_02

minahasa_01