
Hari sudah sore ketika aku mulai memikirkan perempuan bernama Jasmin itu. Terus terang saja, mahasiswa fakultas hukum sebuah universitas negeri di Manado itu sangat menggoda hatiku. Tak ada dari bagian tubuhnya yang tidak sempurna!! Mulai dari wajah, lekuk tubuh serta tungkai kakinya yang pajang sangat mengairahkan. Dua hari yang lalu ia muncul di tempatku bekerja. Fuiiih! Jantungku terasa copot manakala ia bergerak duduk di kursi. Sebagian dari tungkai pahanya terlihat bersih dan putih saat kain rok itu tersingkap sedikit..
"Hemm, God boy, Kak. Apa kabar?" tanyanya."Ooh, baik," jawabku agak gugup sebab sebenarnya akulah yang harus mengajukan pertanyaan itu.
"Apanya yang baik?"
"Hemm. semuanya," jawabku lagi sekenanya.
Gadis itu hanya tersenyum, lalu segera ia membasahi bibirnya yang merah berbentuk penuh itu."Aku dengar seminggu lagi beberapa dari anggota Devisi Pemuda Gereja akan ke Yerusalem. Pasti kakak akan ke Yerusalem juga? Pasti sebagai ketua devisi mewakili Indonesia. Kapan waktunya?"
"Ooh, itu?" seruku kaget. "Akhirnya kamu tahu juga. Ya benar, tapi hanya dua minggu. Mau titip apa?"
"Kain kafan saja, hahaha. Di Yerusalem tepatnya di mana?"
"Di kotanya. Sesuai rencana tanggal 9-20 bulan bulan ini. Di sana ada berbagai seminar tentang pelayanan, kepemimpinan, misi dan sebagainya."
"Wah, sangat menarik," Jasmin menangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum lebih lebar. "Selain nanti kakak akan punya banyak pengalaman tentu tidak akan cemas dengan masa depan."
"Oo, iya. Itu pasti Jasmin. Lalu Jasmin kemari untuk keperluan apa? Kebetulan siang ini kakak tak banyak pekerjaan di gereja jadi kita bisa bicara panjang lebar.. Ayooo, ada masalah apa?"
"Ah, tidak ada masalah apa-papa, Kak. Aku hanya ingin datang pada Tuhan. Maunya ingin menangis tapi benar tidak ada apa-apa," ujar Jasmin.
"Jasmin don't worry for reguest to help," kataku yang segera sadar, dan membuang dengan jauh semua bentuk godaan saat menikmati wajah cantik milik gadis ini.
"Kak, sori sebelumnya. Aku kemari hanya untuk mengunjungi kakak saja. Bagaimana."
"Ya sudah. Bagaimana kalau sekembali dari Yerusalem saja, kakak pasti datang ke rumahmu.
Maka tiga minggu kemudian sekembali di tanah air, aku menaiki motor bebek untuk pergi ke rumah gadis itu. Tujuanku hanya satu, menjenguknya sesuai janji. Tapi gila! tiba-tiba pikiranku mulai tak menentu, Apa yang harus kelakukan di sana? Apakah sesampainya aku di sana Jasmin akan memberikanku sebuah kejutan? Tapi... apapun kejadiannya nanti what happen will be will be deh!!
***
"Ooh, kakak? Silahkan masuk," sambut Jasmin di depan pintu sambil wajahnya terkejut. Aku berharap ia mengucapkankan beberapa kata yang menyiratkan rasa rindunya padaku. Tapi wajahnya tempak pucat. Rambutnya yang selalu disisir rapi itu kali ini tampak berantakan.
Dia memberi jalan untukku agar dengan mudah memasuki ruang bagian tengah rumahnya. Selanjutnya aku disuruh duduk di depan meja yang di atasnya tergeletak sebuah kopor hitam dengan bau yang minta ampun.
"Rumahmu sepi sekali. Di mana ibu dan adik-adikmu?" tanya aku spontan sambil meletakan sekeranjang kecil aneka buah-buahan di atas meja.
"Ooh, ibu sedang pergi. Sekarang ibuku bekerja sampai malam di kantor Pak Undap. Adik-adik di rumah paman," jawabnya sedikit gugup.
"Kamu kenapa? Sakit ya?"
"Sedang kurang enak badan saja, kak," jawabnya tak bersemangat.
"Sudah makan?"
Dengan kaget aku memandang Jasmin. Astaga, dalam hati aku merasa bersalah karena tak percaya perempuan yang biasanya tampil seksi ini seperti tak ada gairah hidup.
"Oya, ini kopor apa? Punya siapa? Bau ya?" entah, perhatianku mulai tertuju pada kehadiran kopor itu. Satu meter di samping meja ada tumpukan buku cetak kriminologi dan buku daftar kejahatan para bandit dunia sekelas Issei Sagawa dan Phoolan Devi si wanita India yang sudah membunuh 22 pria dari kasta Bhrahmana. Ada juga buku belajar sulap ala Deddy Corbuser.
"Tidak, ini memang bau sekali, " tukasnya.
"Isinya buku juga, ya?"
"B-bukan."
Aku mengebas-ngebas kulit kopor berwarna hitam itu dengan telapak tangan. Sedikit mencari perhatian darinya. Kemudian Jasmin yang cantik itu duduk di samping sambil termenung.Entah apa yang ia pikirkan.
"Wajahmu kenapa pucat? Punya masalah? Kau ini, seperti tidak tahu semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Jasmin punya masalah apa?"
"Aku memang punya masalah, Kak," tiba-tiba ia berkata dengan suara parau. Aku ini sebenarnyanya tukang copet !!"
"Apa pencopet?" seruku kaget.
"Aku tidak bohong, Kak. Orang lain tidak perlu tahu. Sebenarnya aku juga lahir dari ayah tukang copet. Ayahku meninggal ditusuk sepuluh tahun lalu. Kenal dengan Pak Lucas Roder bangsawan pemilik salah sebuah bank terkemuka terkemuka itu? Dia yang menusuk ayah tapi keluarganya memberikan kami uang banyak sehingga Pak Lucas tidak dipenjarakan..
Jasmin tampak menghela napas panjang dan menatapku. "Benar, aku sekarang ada masalah. Mungkin tidak akan terlalu berat juga Tuhan merubah kopor hitam ini menjadi sebuah dompet serisi uang!" ia tampak mulai gelisah.
"Jadi Jasmin masih mengimpikan berbuat sebuah kejahatan dan Tuhan turut serta di dalamnya?"
"Oh, aku salah ya?"
"Lalu ini barang apa? Aku tidak akan memihak padamu bila kopor ini milik orang lain yang kau ambil di luar sana. Ketahuilah aku tidak akan mengijinkanmu berbuat kesalahan terus menerus..."
Jasmin akhirnya segera menyadari kekeliruannya. Dengan mantap ia lalu bercerita asal muasal kopor hitam itu.
Semuanya berawal saat dirinya pergi ke sebuah supermarket tak jauh dari rumahnya. Jasmin terbiasa melakukan pekerjaan rumah di samping ia berkuliah. Mulai dari pekerjaan menyapu, membenahi kamar tidur hingga memasak biasa ia lakukan untuk membantu sang ibu. Jasmin memutuskan melewati jalan di sebuah bank yang berada 30 meter dari rumahnya.
Ia tahu persis setiap hari bank itu penuh dengan orang hingga ke halamannya. Dari yang muda hingga orangtua. Ada para pengusaha yang turun dan naik dengan mobil-mobil keren.Sedangkan beberapa dari kawanan pencopet sedang bersiap-siap melahap mangsanya!
Tak beberapa lama di depan bank itu ia ditegur oleh seorang perempuan cantik. Ia berumur sekitar 30-an, turun dari sebuah mobil dengan membawa kopor hitam. Ia menyapa dengan suara yang lembut. Katanya akan mencairkan sejumlah uang dan akan dimasukannya ke dalam kopornya. Jasmin diminta untuk membantunya menunggui mobil dan akan diberikan imbalan yang banyak.
Maka sambil menunggu wanita itu keluar, Jasmin menunggu.
Anehnya, tak berapa lama kemudian ia justru tergoda untuk melakukan teknik kriminal copet dengan gaya yang berbeda.Sambil beradu cepat dengan kawanan pencopet lainnya, ia berlari pulang, mengambil sebuh koper yang sama persis milik ayahnya dan kembali untuk menunggu keluarnya wanita itu.
Mereka berbincang-bincang lama di tempat parkir mobil. Perempuan itu bercerita bahwa sebenarnya ia adalah seorang penipu yang baru saja mencairkan uang tipuannya. Supaya tidak ketahuan, ia datang dengan mobil seperti layaknya beberapa pengusaha terkenal di kota ini. Beberapa saat kemudian ia ke toilet tapi meminta Jasmin untuk menunggui kopornya.
Bak macan yang bertemu mangsanya, Jasmin kemudian menukar kopor milik perempuan itu dengan kopor milik ayahnya. Ia berpura-pura membantu mengangkat kopor itu sekembali perempuan tadi dari toilet.Kemudian perempuan itu mengucapkan terima kasih dan pergi dengan mobilnya.
Jasmin terburu-buru pulang sambil mengopoh kopor hitam yang sangat berat itu. Tak ada yang tahu bahwa ia baru saja menipu seseorang! Tapi alangkah terkejutnya ia ketika kopor itu dibuka.....
"Itu mayat hasil mutilasi. Hanya bagian paha dan kakinya saja. Sejak semalam aku meletakannya di kolong tempat tidur, tapi sejak satu jam lalu kubawa keluar..." cerita Jasmin menjelaskan kejadiannya.
Mendengar itu, tubuhku terasa goyah. Supaya tidak terlihat olehnya, aku bergerak menjahu. Selanjutnya aku kembali dan kuajak dia berdoa agar kami mendapatkan kekuatan baru.
"Sekarang Tuhan pasti sedang ingin berbicara bahwa Ia tidak ingin pekerjaan itu kau geluti lagi. Kau harus sadar bahwa Dia memberikan pekerjaan bagi kita untuk dikerjakan dan Dialah yang akan menyempurnakannya untuk memuliakan namaNya. Kau juga harus tahu bahwa Tuhan telah mengijinkan kejadian ini terjadi padamu supaya kau sadar bahwa setiap orang harus terus belajar untuk mengadalkan kekuatanNya, dan bukan hidup dengan target sendiri. Kalau demikian hidup kita tidak akan berhasil. Percayalah padaku, wanita yang kau temui itu juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada polisi...," aku berbicara padanya dengan mantap.
Akhirnya ia menangis. Inilah pertama kali kulihat ia menangis.Lalu kuminta ia minum secangkir air putih, sambil menunggu saatnya kami siap untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi terdekat.
Setelah kejadian tersebut, Jasmin akhirnya sering datang ke pastori gereja untuk membantu pekerjaan di devisi pemuda. Ia serius bekerja dan sesekali bermain piano serta bernyanyi pada acara ibadah-ibadah gereja.
Ini adalah pengalaman Jasmin yang tak akan dilupakannya seumur hidup. Kini setiap akan memulai pekerjaan, ia pasti berdoa terlebih dahulu agar Tuhan campur tangan di setiap usahanya.
Sedangkan aku, sangat bersyukur dapat mengajaknya kembali ke jalan yang benar! (selesai) (mw)

























